Facebook Menghapus Akun yang Jual Data Pribadi

Facebook akhirnya menghapus sejumlah akun serta halaman-halaman yang mengiklankan dan menjual data pribadi. Data itu berisikan nomor jaminan sosial, nomor telepon, alamat dan juga dugaan nomor kartu kredit dari kurang lebih lusinan orang.

Facebook Ambil Sikap

Dikutip dari CNN Indonesia, Juru Bicara Facebook mengungkapkan postingan yang berisikan informasi penting seperti misalnya nomor jaminan sosial dan itu tidak diizinkan sama sekali. “Pos yang isinya seperti nomor jaminan sosial, atau informasi kartu kredit tak diizinkan di Facebook. Dan kami menghapus materi demikian saat kami menyadarinya,” jelas Jubir Facebook itu pada hari Selasa (24/4) kemarin.

Dalam laman pencarian Google, sayangnya masih ditemukan beberapa postingan Facebook yang mana menawarkan untuk menjual detail pribadi dan itu termasuk nomor kartu kredit.

Peretas Dewa poker online sendiri telah mengiklankan database informasi pribadi pada platform sosial media. Dan dipandu dari CNN Indonesia, Facebook sudah menyimpan identitas curian dan juga nomor jaminan sosial selama bertahun-tahun.

Laporan tersebut mengatakan setidaknya beberapa data di dalam posting itu terlihat sangat jelas. Lebih lagi, laporan dari CNN Indonesia mengatakan sudah mengonfirmasi 4 digit pertama dari nomor jaminan sosial, alamat, nama dan tanggal lahir untuk 4 orang yang datanya muncul di postingan dari bulan Juli 2014.

Minggu yang lalu, Facebook sudah menghapus hampir sekitar 120 grup diskusi pribadi yang anggotanya lebih dari 300 ribu orang. Kelompok itu dikabarkan mempromosikan beberapa kegiatan terlarang misalnya termasuk spam, pengambilalihan akun, pengembalian pajak palsu dan penipuan.

Koleksi paling besar dari grup yang dilarang adalah mereka yang mana mempromosikan penjualan dan juga penggunaan rekening debit dan kartu kredit curian. Kelompok yang dilarang selanjutnya adalah kelompok yang memfasilitasi pengambil-alihan untuk akun online misalnya seperti PayPal, Google, Amazon dan Netflix.

Perusahaan-perusahaan teknologi pasalnya sedang diselidiki dengan sangat intensif soal bagaimana mereka melindungi data pelanggan setelah Facebook terlibat dalam skandal besar di mana lebih dari jutaan data pengguna diakses secara tak layak oleh konsultasi politik.

Facebook Belum diblokir di Indonesia

Menanggapi skandal besar yang melibatkan Facebook, Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika berkali-kali menegaskan bahwa dirinya tak ragu menutup layanan FB di Indonesia. Akan tetapi, sampai hari ini bahkan hal tersebut tak kunjung dilakukan.

Kemenkominfo sendiri mengaku bahwa pihaknya merasa belum memiliki cukup bukti yang kuat tentang data pengguna Indonesia yang bocor ke Cambridge Analytica.

Samuel Abrijani  Pangerapan selaku Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika menanggapi sikap sejumlah pihak yang masih sangsi dengan ketegasan dari kemeteriaanya. Kemenkominfo dianggap tidak tegas pada Facebook, menunjukkan sikap yang berbeda menghadapi Tumblr dan Telegram.

Dalih dari Samuel adalah skandal Facebook yang tengah terjadi sekarang ini tidak sama dengan kasus Telegram dan Tumblr. Dalam hal kebocoran data yang pasalnya melibatkan firma Cambridge Analytica, dirinya menilai belum ada bukti yang cukup dan kuat untuk menindak Facebook.

“Kalau saya tutup, enggak punya bukti, siapa yang akan dituntut? Bisa nggak saya dituntut? Bisa. Dan saya nggak mau dituntut,” ungkapnya saat ditemui di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, hari Selasa (24/4) kemarin.

D ia menceritakan untuk kasus Telegram, pihaknya telah mengantongi bukti yakni sejumlah konten yang bermuatan radikalisme dan terorisme. Sementara untuk Tumblr, bukti yang dipegang berupa konten pornografi yang jumlahnya ribuan. Lagipula, Facebook sendiri merespons dengan cepat kekhawatiran pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *